Obat-obat yang Dibuat dari Mayat Manusia, Bubuk Mumi hingga Salep Lemak
Jakarta - Di zaman kuno, banyak dokter yang menggunakan ramuan resep dengan bahan-bahan aneh, contohnya mayat manusia. Konon, berbagai obat dari bahan 'mengerikan' ini mujarab mengatasi berbagai jenis penyakit.
Pada abad ketujuh belas, ilmu kedokteran di Eropa banyak berfokus pada ilmu kedokteran mayat. Para dokter dan ahli kimia mencurahkan energinya untuk menciptakan ramuan obat dengan bahan dasar daging dan tulang manusia.
Dalam ilmu pengobatan saat ini, mayat juga masih digunakan dalam dunia medis, misalnya untuk transplantasi organ.
Berikut beberapa obat-obatan dari zaman kuno yang dibuat menggunakan organ dari mayat manusia, seperti dilansir io9, Kamis (10/10/2013):
1. Bubuk Mumi
Sejak abad ke-12 sampai abad ke-17, setiap apotek di Eropa banyak menyediakan bubuk mumi. Mumi adalah makanan kesehatan Abad Pertengahan dan disebut-sebut ampuh menyembuhkan berbagai penyakit dari sakit kepala hingga maag. Plester yang dibuat dari bubuk mumi juga digunakan untuk mengobati tumor.
Permintaan akan bubuk mumi ini jauh lebih banyak dibanding pasokannya karena mumi tidak mudah dicari. Beberapa orang kemudian menggali mayat yang telah kering kemudian menggilingnya dan dijual sebagai 'bubuk mumi'.
2. Man Mellified
'Obat' ini dibuat dengan cara memandikan seorang pria berusia 70-80 tahun dan memberinya makan madu. Setelah meninggal, biasanya sebulan kemudian, mayatnya disimpan dalam peti mati penuh madu selama 100 tahun. Obat ini digunakan untuk mengobati patah tulang dan cedera. Metode ini ditemukan dalam buku ilmu pengobatan China yang ditulis oleh Li Shih-chen pada tahun 1597.
3. The King's Drops
Ramuan ini dibuat dari bubuk tengkorak manusia dan menjadi populer karena sempat dipromosikan kerajan Inggris. Charles II dari Inggris sangat tertarik terhadap ilmu kimia selama masa pengasingannya di Prancis. Ia membeli hak paten obat ini dari Jonathan Goddard, ahli bedah dan profesor di London Gresham College.
King's Drops atau sebelumnya disebut Goddard's Drops ini kemudian menjadi terkenal. Charles II memproduksi dan menjual sendiri obat ini. Obat ini disebut-sebut dapat meningkatkan kesehatan dan kekuatan. Banyak dokter lain mengembangkan obat berbahan dasar tengkorak, salah satunya Sir Kenelm Digby yang mengobati epilepsi.
4. Hati dan Darah Gladiator
Di zaman Roma kuno, hati dan darah manusia dianggap obat yang manjur untuk mengobati epilepsi. Paling mujarab lagi jika hati dan darahnya berasal dari gladiator yang sehat, kuat, dan berani. Bahkan, setelah sang gladiator terkena serangan fatal, banyak orang langsung meminum darah dari lengannya yang terpotong. Di sekitar Colosseum waktu itu banyak dijumpai penjual darah segar para gladiator.
5. Sulingan Otak Manusia
Pada abad ke-17, sulingan otak manusia lebih dipercaya mengobati epilepsi daripada hati. Dokter Inggris bernama John French dan ahli kimia Jerman bernama Johann Schroeder menulis ramuan obat ini. French membuat ramuannya dengan menghaluskan otak pemuda kemudian diseduh dengan anggur dan kotoran kuda selama setengah tahun sebelum disuling atau didestilasi.
Schroeder membuat ramuannya dengan melarutkan tiga pon otak manusia dengan air bunga lili, lavender, dan malmsey. Seluruh tubuh mayat kemudian dipotong-potong kecil dan ditumbuk halus untuk dicampur dengan otak manusia dalam penyulingan.
6. Keringat Manusia Mati
Seorang dokter abad ke-17 di Inggris, George Thomson, percaya bahwa tidak ada satu pun bagian tubuh manusia yang tidak bermanfaat, termasuk keringat. Keringat seorang pria sekarat atau yang telah meninggal yang diresepkan oleh dokter dipercaya dapat mengobati wasir.
Keringat yang didapat dari tangan pria yang dihukum gantung juga diyakini dapat menyembuhkan kista dan kutil. Bahkan pada abad ke-19, masih banyak praktik orang-orang yang menyentuhkan tangan mayat yang mati digantung ke kista atau kulit yang terkena penyakit.
7. Salep Lemak Manusia
Untuk penderita nyeri sendi, nyeri tulang, kram otot dan kerusakan saraf, sering dianjurkan memakai salep dari lemak manusia yang dicampur bir serta lemak, darah dan sumsum hewan. Di beberapa wilayah di Eropa, para terpidana mati dan musuh perang akan dibawa ke laboratorium pengolahan, di mana mayat-mayatnya direbus dan lemaknya diambil.
Zaman dulu, algojo di Belanda kadang-kadang merangkap juga sebagai ahli bedah dan keesokan harinya ia menjual salep manusia yang dihukum mati tempo hari.
Sebuah artikel di American Journal of Pharmacy tahun 1922 mengatakan salep yang disebut 'Hangman's Salve' atau 'Lemak si Pendosa Malang' itu masih digunakan untuk mengobati tulang yang bergeser atau pincang di Belanda. Namun mengingat Belanda telah melarang hukuman mati sejak 70 tahun lalu, sulit dipastikan bahwa salep ini asli.
8. Kapsul Tai Bao
Obat ini masih digunakan di China sampai saat ini. Kapsul Tai Bao diperkirakan berisi bubuk plasenta dan atau jaringan janin yang diaborsi. Obat ini dianggap berkhasiat untuk meningkatkan stamina, mengobati asma, dan mempercantik kulit. Dalam sebuah investigasi yang dilakukan Marry Roach, diketahui dokter di Rumah Sakit Shenzhen di China mengakui kapsul ini memang mengandung jaringan janin.
Bulan Mei tahun lalu, petugas bea cukai Korea Selatan menyita pil yang diduga mengandung bubuk jaringan manusia yang berasal dari China, Kementerian Kesehatan China segera melakukan penyelidikan atas tuduhan tersebut.
Sumber : detikcom
Blogger Comment
Facebook Comment